Fiqih Lailatul Qadar
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Al-Qadr bisa dibaca dengan 2 cara :
[1] Dibaca dengan huruf dal di-sukun [ليلةُ القَدْرِ] (lailatul qadr) artinya malam kemuliaan.
[2] Dibaca dengan huruf dal di-fathah [ليلةُ القَدَرِ] (lailatul qadr) artinya malam taqdir.
Keutamaan
Ada banyak keutamaan di malam qadar.
[1] Malam diturunkannya al-Quran
Allah berfirman,
إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatulqadar.” (QS. al-Qadar: 1)
[2] Allah tetapkan takdir tahunan
Allah berfirman,
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, yaitu sebagai ketetapan dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami-lah yang mengutus (para rasul).” (QS. ad-Dukhan: 4-5)
[3] Malam yang diberkahi
Allah berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang penuh berkah.” (QS. ad-Dukhan: 3)
[4] Ibadah di malam itu lebih baik dari pada ibadah 1000 bulan
1000 bulan = 83 tahun + 4 bulan.
Allah berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadar : 3)
[5] Jibril turun dengan membawa kebaikan
Allah berfirman,
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ( ) سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.” (QS. al-Qadar: 5-6)
Amalan Saat Lailatul Qadar
Dianjurkan untuk melakukan amal soleh apapun saat lailatul qadar, terutama qiyamul lail.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
ومن قامَ ليلةَ القَدرِ إيمانًا واحتسابًا غُفِرَ له ما تقَدَّمَ مِن ذَنبِه
“Barang siapa menghidupkan malam Lailatulqadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Juga dianjurkan untuk itikaf, agar selalu bertahan dalam amal soleh.
Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
من كان اعتكَفَ معي، فلْيعتكِفِ العَشرَ الأواخِرَ، وقد أُريتُ هذه الليلةَ ثم أُنسِيتُها، وقد رأيتُني أسجُدُ في ماءٍ وطِينٍ مِن صَبيحَتِها فالتَمِسوها في العَشرِ الأواخِرِ، والتَمِسوها في كُلِّ وِترٍ
“Barang siapa yang pernah beri‘tikaf bersamaku, maka hendaklah ia beri‘tikaf pada sepuluh hari terakhir (Ramadan). Aku pernah diperlihatkan malam itu (Lailatulqadar), kemudian aku dibuat lupa mengenainya. Aku juga melihat diriku bersujud di air dan tanah pada pagi harinya. Maka carilah malam itu pada sepuluh malam terakhir, dan carilah pada setiap malam ganjil.” (HR. Bukhari & Muslim)
Waktu Lailatul Qadar
Lailatul qadar ada di salah satu malam diantara 10 malam terakhir Ramadhan, terutama di malam ganjil.
Demikian yang dipahami dalam Madzhab Syafiiyah, Hambali, dan salah satu pendapat dalam madhzab Malikiyah, pendapat Ibnu Taimiyah, as-Shan’ani, Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.
Ibnu Taimiyah mengatakan,
ليلةُ القَدرِ في العَشرِ الأواخِرِ مِن شَهرِ رمضان، هكذا صحَّ عن النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم؛ أنَّه قال: هي في العَشرِ الأواخِرِ مِن رمضان، وتكونُ في الوِترِ منها
Lailatulqadar berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Demikianlah yang sahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: malam tersebut berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan, dan terjadi pada malam-malam ganjil di dalamnya. (Majmu’ al-Fatawa, 25/284)
Diantara dalil yang mendukung pendapat ini adalah
[1] Hadis dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
تَحَرَّوْا ليلةَ القَدْرِ في الوِترِ مِنَ العَشرِ الأواخِرِ مِن رَمَضانَ
“Carilah Lailatulqadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (Muttafaq ‘alaih)
[2] Hadis Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
التَمِسُوها في العَشرِ الأواخِرِ مِن رمضانَ، ليلةُ القَدْرِ في تاسعةٍ تبقى، في سابعةٍ تبقى، في خامسةٍ تبقى
“Carilah Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan: pada malam kesembilan yang tersisa, malam ketujuh yang tersisa, dan malam kelima yang tersisa.” (HR. Bukhari)
[3] Hadis Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma,
bahwa beberapa sahabat Nabi ﷺ diperlihatkan dalam mimpi tentang Lailatulqadar yang terjadi pada tujuh malam terakhir (Ramadan).
Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
أرى رُؤيَاكم قد تواطَأَتْ في السَّبعِ الأواخِرِ، فمن كان مُتَحَرِّيَها فلْيتحَرَّها في السَّبعِ الأواخِرِ
“Aku melihat bahwa mimpi kalian saling bersesuaian pada tujuh malam terakhir. Karena itu, siapa yang ingin mencarinya, hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir.” (Muttafaq ‘alaih)
Tanda Lailatul Qadar
Tandanya terlihat di pagi harinya, matahari terbit dalam keadaan putih dan tidak terik.
Dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
وأمارَتُها أن تطلُعَ الشَّمسُ في صبيحةِ يَومِها بيضاءَ لا شُعاعَ لها
“Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan putih dan tidak memancarkan sinar yang menyilaukan.” (HR. Muslim)
Tanda Orang yang Dapat Lailatul Qadar
Keyakinan bahwa tanda orang yang mendapat lailatul qadar akan mengalami kejadian luar biasa, adalah keyakinan yang tidak benar.
Bukan syarat untuk mendapat lailatul qadar harus mengalami kejadian aneh atau kejadian luar biasa. Bahkan keyakinan ini menjadikan orang pesimis dan mutung untuk beribadah. Karena merasa sudah sering ibadah di malam-malam ganjil, namun ternyata selama dia beribadah tidak mendapatkan kejadian aneh apapun.
lailatul qadar terjadi sepanjang malam, sejak maghrib hingga subuh. Semua orang yang melakukan ibadah ketika itu, berarti dia telah melakukan ibadah di lailatul qadar. Besar dan kecilnya pahala yang dia dapatkan, tergantung dari kualitas dan kuantitas ibadah yang dia kerjakan di malam itu.
Sekalipun dia hanya mengerjakan ibadah wajib saja, shalat maghrib dan isya di malam qadar, dia mendapatkan bagian pahala beribadah di lailatul qadar.
Imam Malik meriwayatkan secara balaghan (tanpa sanad), menukil keterangan Said bin Musayib tentang orang yang beribadah ketika lailatul qadar.
أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ كَانَ يَقُولُ: مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا
Bahwa Said bin Musayib pernah mengatakan, “Siapa yang ikut shalat isya berjamaah di lailatul qadar, berarti dia telah mengambil bagian lailatul qadar.” (Muwatha’ Malik, no. 1146).
Az-Zarqani menjelaskan,
فقد أخذ بحظه منها، أي: نصيبه من ثوابها
“dia telah mengambil bagian lailatul qadar” maknanya dia mendapat bagian dari pahala lailatul qadar. (Syarh az-Zarqani ‘ala Muwatha, 3/463).
Lailatul Qadar akan Selalu Ada
Sebagian orang meyakini bahwa lailatul qadar hanya ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan ini keyakinan yang salah.
Lailatul qadar akan senantiasa ada sampai kiamat.
Dari Abdullah bin Unais Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
أُرِيتُ ليلةَ القَدْرِ ثمَّ أُنْسِيتُها، وأُراني صُبْحَها أسجُدُ في ماءٍ وطِينٍ، قال: فمُطِرْنَا ليلةَ ثلاثٍ وعِشرينَ، فصلَّى بنا رسولُ الله، فانصرَفَ، وإنَّ أثَرَ الماءِ والطِّينِ على جَبهَتِه وأنفِه
“Aku pernah diperlihatkan tentang Lailatulqadar, kemudian aku dibuat lupa mengenainya. Dan aku melihat diriku pada pagi harinya bersujud di air dan tanah.”
Abdullah mengatakan: “Lalu pada malam kedua puluh tiga kami diguyur hujan. Rasulullah ﷺ pun mengimami kami salat. Setelah beliau selesai, tampak bekas air dan tanah pada dahi dan hidung beliau.” (HR. Muslim)
An-Nawawi mengatakan,
وأجمَعَ مَن يُعتَدُّ به على وُجودِها ودوامِها إلى آخِرِ الدَّهرِ؛ للأحاديثِ الصحيحةِ المشهورةِ
“Para ulama yang pendapatnya diperhitungkan telah bersepakat bahwa Lailatulqadar itu ada dan tetap berlangsung hingga akhir zaman, berdasarkan hadis-hadis sahih yang masyhur.” (Syarah Sahih Muslim, 8/57).
